Demo DPRD Sumut, Kebebasan yang Kebablasan

Demo di DPRD Sumut, Kebebasan yang Kebablasan

Kasus meningggalnya Ketua DPRD Sumatera Selatan, Abdul Azis Angkat yang diduga terjadi karena aksi demo yang anarkis oleh para pendukung pemekaran wilayah Tapanuli membuat kita terhenyak kembali akan arti sebuah demonstrasi. Demonstrasi adalah bagian dari ekspresi menyalurkan aspirasi. Demonstrasi menjadi suatu yang lumrah di negara yang menganut demokrasi sebab demokrasi banyak diterjemahkan sebagai kebebasan termasuk kebebasan menyampaikan aspirasi di muka umum.
Semenjak krisis ekonomi yang kemudian diikuti krisis politik di Indonesia yang saat itu ditandai dengan demonstrasi besar-besaran dengan mengusung tema reformasi, aksi demonstrasi semakin marak dan nyaris setiap hari mewarnai kota-kota di seluruh Indonesia.

Di satu sisi kebebasan ini membawa ruang lebih luas terhadap hak menyampaikan pendapat yang sebelumnya hanya diberi ruang yang sangat terbatas. Sekarang, siapa yang tak boleh berdemo. Asalkan sudah menyampaikan pemberitahuan dan izin dari pihak terkait maka demo dapat dilaksanakan kapan dan dimana saja (kecuali dilarang menurut Undang-undang).

Di sisi lain, justru kebebasan ini justru membuka peluang semakin berkembangnya praktek anarkis yang kerap membumbui beberapa aksi demo. Coba saja perhatikan, kasus bentrokan dan pengrusakan fasilitas umum bahkan sampai merenggut nyawa, baik dari pihak pendemo, aparat keamanan, maupun masyarakat umum. Contoh terakhir jelas terekam, betapa para pendemo yang mengatasnamakan pendukung pemekaran wilayah Tapanuli, Sumatera Utara berdemo dan berakhir dengan penyerbuan pendemo ke dalam ruang rapat paripurna DPRD Sumut dan melakukan pengerusakan, hingga pemukulan (?) Ketua DPRD Sumut, Abdul Azis Angkat.

Entah karena ingit di shoot kamera atau terpuaskan emosinya, para pendemo sepertinya bangga dengan aksinya yang sedang ditonton jutaan pasang mata melalui layar kaca. Mereka tak nampak ragu menampakkan bagian buruk dari sebuah kebebasan. Lalu bagaimana sebetulnya makna kebebasan yang sebenarnya?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: