Jangan Malu Akui Kekalahan

Jangan Malu Akui Kekalahan

Ketika Negara kita menerapkan system pemilihan langsung untuk memilih para calon pemimpin baik pusat maupun daerah, ada secercah harapan kalau pemimpin-pemimpin yang akan melayani rakyat akan benar-benar duduk di kursi empuk karena pilihan rakyat, bukan karena pesanan dari atas atau hasil rembugan (koalisi) partai-partai yang memiliki maksud dan tujuan yang sama. Ini tentu menjadi pertanda baik perjalanan dan perwujudan demokrasi banyak dan terkesan cukup adil.

Tapi, di balik sisi baik itu tersimpan pula ekses dari sebuah system pemilihan langsung. Kasus-kasus yang mengiringi perjalanan system ini semakin nampak jelas dan seringkali membuat kita ingin kembali ke masa lalu. Ekses yang dimaksud adalah semakin banyaknya anak bangsa ini yang berubah tampilan dan prilaku yang tak santun lagi.

Cobalah kita lihat pada setiap aksi pendukung para calon kepala daerah yang ditakdirkan kalah seperti kehilangan keramahan yang menjadi trade mark bangsa kita sejak lama. Berbagai kasus terakhir pilkada di berbagai daerah yang berujung bentrokan antar pendukung pasangan calon kepala daerah yang tak saling terima antar satu denga yang lainnya. Sepertinya semua calon pasangan ingin ditakdirkan sebagai pemenang dan takut menerima kekalahan. Padahal semua sudah maklum bahwa dalam sebuah pertandingan pasti mesti ada yang kalah dan ada yang menang. Di saat pertandingan inilah sebenarnya kesatria yang sebenarnya akan tampak.

Hakekat seorang ksatria adalah seseorang yang berani bertanding dan bersedia untuk mengaku kekalahan jika memang terbukti tak sanggup menang. Kemenangan sesungguhnya bukan di atas kekuatan fisik atau di atas kekuatan massa tetapi terletak di kemampuan mengolah emosi diri. Dalam haditsnya, Nabi Muhammad Saw. Bersabda bahwa orang yang kuat (menang) bukanlah orang yang mampu bertarung (mengandalkan kekuatan fisik) tapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya di saat marah.

Menang dalam mengelola emosi jauh lebih pantas disebut sebagai sang juara dibandingkan dengan menang karena diusung oleh kekerasan dan anarkisme. Malu mengakui kekalahan adalah awal dari kekalahan selanjutnya dan mengalah demi kemashlahatan adalah awal dari kemenangan selanjutnya. Wallahu A’lam

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: