Kampanye Calon Presiden, Jabatan atau Kehormatan ?

Kampanye Calon Presiden, Jabatan atau Kehormatan ?

Anda pasti sering menyaksikan beberapa hari terakhir tayangan iklan politik yang semakin gencar seolah saling berburu perhatian rakyat melalui media (baik cetak, lebih-lebih media elektronik). Iklan yang oleh sebagian masyarakat yang mulai melek politik dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting, konon sampai menelan dana milyaran rupiah. Dana iklan sebesar ini hanya sebagian saja disamping biaya operasional kampanye lainnya yang tentu jauh lebih besar. Begitu royalkah para calon pemimpin kita? Entahlah, itu urusan mereka yang akan punya hajat politik.

Namun dibalik milyaran biaya iklan tadi, jika kita mau sejenak memperhatikan para calon pemimpin atau partai politik pengusungnya dalam kampanye banyak ditemukan sesuatu yang membuka aib calon pemimpin itu sendiri. Akibatnya, iklan politik yang ditayangkan bukan membuat rakyat manggut-manggut, tapi justru geleng-geleng kepala. Terkadang bukan senyum harapan yang tersungging di mulut, tapi senyum kecut meremehkan.

Coba perhatikan, tidak satupun iklan politik yang menampakkan pengakuan akan kekurangannya. Padahal mengakui kelemahan tidak serta merta membuat posisi kita menjadi lemah pula, justru yang terjadi sebaliknya, pengakuan akan kekurangan malah melahirkan simpati dan dukungan. Realitas iklan politik yang ada justru menampilkan janji manis yang sangat mungkin tidak untuk ditepati. Fenomena ini bisa juga dimaklumi, karena mungkin memang itulah syarat sebuah iklan, yang hanya mementingkan publisitas dan keuntungan setelahnya. Artinya jika perusahaan kecap ingin mempromosikan produknya, maka dia harus mengatakan lezat untuk kecapnya yang jelas tidak lezat.

Tapi, untuk urusan rakyat semestinya rumus iklan kecap tadi tidak bisa kemudian dipakai rujukan untuk mengambil keuntungan (perolehan suara) dari rakyat. Kalau kecap urusannya dengan cinta rasa penikmatnya, maka pemimpin urusannya dengan rasa cinta rakyatnya. Maksudnya, jika pemimpin ingin dicintai kelak oleh rakyatnya, maka konsekuensi dari janji iklan politiknya harus ditepati. Tidak sekedar bicara tapi realita, tidak sekedar retorika tapi bukti nyata.

Tapi semua itu kembali kepada yang punya niat politik para calon pemimpin kita. Sebab seperti sabda Nabi Muhammad Saw. yang menyatakan bahwa segala sesuatu tergantung pada niatnya, maka motif dari kepemimpinanlah yang kelak akan memperlihatkan cara dan karakteristik dari berbagai macam kebijakan yang diterapkan kepada rakyatnya. Jika motifnya sekedar menggapai jabatan atau kekuasaan.maka tidak ada yang perlu diharapkan dari sebuah kekuasaan selain keuntungan para penguasa. Sebaliknya, jika motif calon pemimpin betul-betul mendampingi rakyat bersama membangun bangsa, maka kesejahteraan rakyat akan menjelma dan kehormatan pemimpin akan tercipta, beriring bersama. Wallahu A’lam.

  1. untuk mereka…dua-duanya, sedang untuk saya semoga negeri ini aman sentosa adil makmur…

  2. Amiin…..Pak, Semoga !

  3. Harapan itu masih ada…

  4. Mudah-mudahan……

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: