Kemiskinan itu Mengundang Mereka Ke Ponari

Kemiskinan itu Mengundang Mereka Ke Ponari

Anda mungkin masih ingat peristiwa Zakat Pasuruan tahun lalu yang menewaskan puluhan jiwa. Peristiwa serupa kini terulang kembali pada peristiwa antrean maut di Jombang yang menewaskan 4 orang. Bedanya, jika di Pasuruan puluhan nyawa melayang karena mengantre pembagian zakat, maka di Jombang nyawa terenggut karena mengantre celupan batu ajaib “dukun Cilik” Ponari, yang konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Heboh batu ajaib dari dukun cilik Ponirah, bocah yang baru berusia 10 tahun asal Dusun Kedungsari Desa Balongsari Kec. Megaluh, Jombang kontan dengan cepat menyedot perhatian dan kunjungan ribuan warga ke kediaman Ponirah, sang dukun cilik. Batu yang disebut sebagai batu petir itu dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dengan cukup dicelupkan ke dalam air maka air tersebut berubah menjadi air obat yang mujarab.

Jumlah pengunjung (pasien) yang datang semakin membludak hingga akhirnya terjadi tragedi yang memilukan. Ironisnya, Sebagian besar pengunjung (pasien) yang datang adalah masyarakat miskin yang ada di sekitar daerah jombang , sehingga yang terenggut nyawanya adalah bagian dari mereka.

Sudah menjadi pemandangan yang sangat lazim, jika fenomena membludaknya jumlah pasien suatu kegiatan pengobatan disebabkan biayanya yang relatif murah bahkan gratis. Pengobatan gratis sepertinya menjadi tujuan terpavorit para pasien miskin. Mareka rela mengantre walau dengan peluh bercucuran, badan terhimpit bahkan sampai harus meregang nyawa. Hal ini mereka tetap lakukan karena tak ada pilihan lain.

Keengganan mereka untuk berobat ke puskesmas, klinik, dan rumah sakit bukan tanpa alasan. Mereka menganggap rumah sakit baik negeri maupun swasta bukanlah tempat yang ramah bagi mereka. Bahkan ketika diantara mereka diterima untuk di rawat di rumah sakit, pelayanannya sangat mengecewakan. Kartu miskin yang mereka ajukan menjadikan mereka semakin dibuat tidak kerasan tinggal di dalamnya.

Berlatar hal tersebut, pengobatan alternatif yang biaya pengobatannya murah meriah lebih diminati oleh masyarakat miskin dibanding pengobatan medis yang seringkali dianggap pilih kasih. Tentu tidak semua rumah sakit seperti itu, namun gambaran umum sementara ini masih bertahan seperti itu. Kita tidak mempermasalahkan pihak manapun, tapi setidaknya akan banyak lagi kasus-kasus pengobatan seperti kasus Ponari jika semua pihak yang terkait tidak segera turun tangan dengan memberikan kebijakan yang membuat saudara miskin kita memilih jalan yang justru membahayakan hidup mereka. Wallahu A’lam

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: