Hillary Datang, Biasa Aja Kali…

Hillary Datang, Biasa Aja Kali…

18 Pebruari ini, negeri kita kedatangan tamu istimewa. Disebut begitu karena yang datang kali ini bukan tamu biasa, tapi tamu khusus negara yang selama ini disebut sebagai negara adidaya, Amerika Serikat. Ya, tamu tersebut adalah Hillary Clinton, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dalam kabinet Presiden Barack Hosein Obama yang pada masa kampanye presiden adalah rival politiknya di rumahnya sendiri, Partai Demokrat. Kunjungan ke Indonesia ini merupakan tujuan negara ke dua di Asia setelah Jepang sehari sebelumnya. Kunjungan ini dianggap sebagai kejadian langka karena di luar kebiasaan tradisi kunjungan seorang Menlu Amerika ke luar negeri. Biasanya, negara yang pertama dikunjungi seorang Menteri Luar Negeri Paman Sam tersebut adalah negara-negara Eropa atau Timur Tengah sebagai prioritas utama kunjungan.

Bagi Indonesia, kunjungan seorang pejabat negara lain ke negeri ini bukan suatu hal yang baru. Sebagai sebuah negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan negara di dunia, Indonesia kerap mendapat kunjungan kenegaraan dari berbagai belahan dunia begitupun sebaliknya. Tapi kunjungan kali ini dimaknai sebagai kunjungan yang cukup mendapat sorotan berbagai pihak, karena dianggap berbeda. Entah faktor apa sebenarnya, setiap kunjungan petinggi negara yang berasal dari Amerika senantiasa mendapatkan sorotan pro dan kontra dari berbagai pihak. Beberapa pihak berpendapat bahwa kunjungan kali ini adalah suatu kehormatan bagi Indonesia. Alasannya, karena kali ini Indonesia masuk daftar negara yang menjadi prioritas kunjungan dan perhatian pejabat Amerika.

Sebagian pihak, kunjungan Hillary ke Indonesia kali ini dianggap sebagai hal yang perlu diwaspadai. Ini tidak lepas dari trauma sejarah bagaimana kedatangan seorang Menteri Luar Negeri sebelumnya, Condolleza Rice pada Nopember 2006 yang berkunjung ke negeri ini dengan meninggalkan kerugian besar dalam kerjasama proyek Blok Cepu yang membuat Indonesia menjadi tuan rumah yang kalah di kandang sendiri. Betapa tidak setelah kunjunga Rice tersebut tercapailah kesepakatan pengelolaan Blok Cepu dengan pembagian keuntungan 30 % untuk Pertamina (Indonesia) dan 70% untuk Exxon Mobil (Amerika ). Tragis memang, tapi itulah buah dari sebuah kunjungan seorang Menlu Amerika saat itu.

Trauma itu mungkin membangkitkan kembali kecurigaan di saat Menlu Amerika yang sekarang bertamu di negeri ini untuk pertama kali di pemerintahan baru Barack Obama. Terlebih, jika dikaitkan dengan jatuh temponya akhir kontrak perjanjian Blok Natuna pada 9 Januari lalu membuat sebagian pihak menaruh kekhawatiran tentang masa depan Blok Natuna yang seharusnya lebih banyak memberikan kemashlahatn bagi seluruh penghuni negeri ini.

Sebagai tuan rumah kita pantas dan harus menghormati siapapun tamu negara yang hendak bersilaturrahmi ke kediaman kita. Tetapi sebagai pemilik rumah pun tidak lantas memalingkan harapan penghuninya karena kebanggaan dan rasa hormat yang berlebihan kepada sang tamu. Jika begitu, pantaskah kita menyambutnya secara berlebihan? Wallahu A’lam.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: