Euphoria S-1 : Mengejar Mutu Atau Saku?

Euphoria S-1: Mengejar Mutu Atau Saku?

Salah satu kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan adalah masalah kualifikasi pendidik. Seorang guru yang mengajar di sekolah harus memiliki syarat kualifikasi minimal S-1 di bidang yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Ketentuan ini berlaku bagi guru yang mengajar mulai di tingkat dasar, seperti SD dan MI. Kebijakan ini diperlukan agar para guru yang mengajar memiliki kualitas dan profesionalisme yang mumpuni sehinggga dapat meningkatkan kualitas atau mutu peserta didik (siswa) dan dunia pendidikan pada umumnya.

Kebijakan ini mungkin pula disebabkan oleh data penelitian bahwa kualifikasi guru di Indonesia sebagian besar masih lulusan SLTA. Setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan program Depdiknas terhadap UU Nomor 14 Tahun 2005 berbagai program-program yang mengarah kepada peningkatan kualifikasi guru terus dilakukan, sehingga sampai saat ini kualifikasi guru S-1 sudah mencapai 41% dari sebelumnya yang hanya 30%.

Keberhasilan program kualifikasi ini juga didukung pula oleh minat para guru untuk terus meningkatkan kualifikasi mereka menjadi S-1. Trend berburu perguruan tinggi yang menyediakan program pendidikan S-1 (bahkan S-2) mulai terlihat. Akibat dari hal ini, para perguruan tinggi (terutama swasta) mulai merasakan lonjakan yang signifikan terhadap jumlah mahasiswa mereka. Peningkatan mahasiswa S-1 dari kalangan guru ini menunjukkan minat yang besar para guru dalam upaya mendukung program pemerintah.

Tapi di lain pihak, penomena ini membuat munculnya lembaga-lembaga pendidikan baru yang secara khusus membuka program S-1 dan S-2. Hal ini mungkin dipandang baik, jika lembaga tersebut betul-betul ingin membantu para guru dalam mencari perguruan tinggi alternatif yang sesuai dengan keinginan mereka. Tapi hal ini menjadi cukup mengkhawatirkan tatkala perguruan tinggi baru tersebut justru hanya mengambil kesempata atau aji mumpung menangkap fenomena ini. Secara ekonomi, jika permintaan meningkat maka peluang usaha semakin terbuka. Artinya, di saat permintaan guru terhadap perguruan tinggi yang menyediakan program S-1 meningkat, maka peluang membuka jurusan baru (S-1) semakin besar dan ini cukup terbukti.

Maka kini, jika anda ingin mencari perguruan tinggi swasta yang menyediakan program S-1 dan S-2 tidaklah sulit sebab banyak perguruan tinggi pendatang baru yang siap menanti dan menampung anda. Bahkan, banyak perguruan tinggi tersebut yang menawarkan berbagai kemudahan dari mulai kemudahan pendaftaran, biaya rendah, angsuran yang ringan, jadwal yang sangat pleksibel, proses belajar yang dapat dikompromikan sampai kemudahan memperoleh ijazah. Dan ironisnya, para guru justru banyak yang lebih tertarik kepada perguruan tinggi model ini. Mereka beranggapan, dengan keterbatasan dana dan waktu (karena mengajar) mereka butuh perguruan tinggi yang bisa diajak kompromi. Selain itu, para guru beranggapan bahwa peningkatan kualifikasi harus mereka segera lakukan, sebab kalau tidak mereka akan berhadapan dengan berbagai kendala dalam mendapatkan berbagai kemudahan dan tunjangan Singkatnya, mereka akan menjawab : “Yang penting S-1”.

Inilah mungkin yang menyebabkan keberadaan perguruan tinggi seperti di atas masih tetap menjadi pilihan. Untuk sementara, menjamurnya perguruan tinggi baru dan berbagai kemudahan yang ditawarkannya kita lihat sebagai taktik cara berjualan dalam usaha mencari atau merebut pasar. Tapi jika ternyata ini hanya bagian dari upaya bisnis semata dari pengelola lembaga pendidikan baru, kita khawatir nilai-nilai mutu dan kualitas yang menjadi tujuan program kulifikasi yang digagas pemerintah hanya menjadi kebanggan di atas kertas saja. Tentu kita tidak perlu bangga dengan angka peningkatan kulifikasi yang semakin meningkat (tajam) jika kualitas para pendidik kita masih jalan di tempat. Kalau sudah semacam ini , tinggal kita bertanya saja kepada yang punya kepentingan (guru), hendak mengejar standar mutu atau saku ?

    • pipix
    • Februari 22nd, 2009

    “Yang penting S-1”
    = = = = = = = = = = = =
    Saya sependapat dengan artikel anda. Mungkin sudah waktunya para guru di Indonesia memposisikan mereka sebagai guru dengan pendidikan S-1.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: