Waspada, 320.000 Macam Bencana Akan Datang!

Waspada, 320.000 Macam Bencana Akan Datang!

Anda mungkin pernah mendengar istilah Rebo Kasan, Rebo Wekasan, atau Rebo Pungkasan ? Atau anda barangkali baru menemukan kata ini sekarang.? Lalu apa hubungannya kata-kata di atas dengan judul artikel ini.

Baik, rebo kasan atau rebo wekasan adalah rabu terakhir bulan Shafar ( bulan ke 2 dalam kalender Hijriyah ). Kata rebo kasan atau rebo wekasan sendiri adalah hari rabu terakhir bulan shafar. Setiap hari rabu terakhir di bulan Shafar, menurut beberapa keterangan , diyakini sebagai hari yang harus “diwaspadai”, karena dipercaya sebagai hari dimana Allah SWT. akan menurunkan sebanyak 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam bala bencana. Pendapat yang lain mengatakan, pada hari itu Allah akan turunkan 70.000 (tujuh puluh ribu) macam jenis bala bencana.

Di beberapa daerah, diadakan ritual khusus “menyambut” kedatangan rebo kasan ini. Ritual yang dimaksudkan untuk menolak bala dan berbagai macam bencana itu dilakukan dengan berbagai macam cara. Ritual ini biasanya dilaksanakan mulai dari ba’da maghrib (selasa malam rabu) atau rabu pagi. Ritualnya dengan mengerjakan beberapa rakaat shalat sunnat dengan bacaan ayat-ayat tertentu yang disertai do’a. Seringkali diikuti dengan pembuatan ketupat dan air wafaq. Tempatnya biasanya banyak dilakukan di masjid-masjid, mushala atau surau dengan diikuti oleh jamaah yang cukup banyak.

Tentu tidak semua dari kita yang mengetahui atau setuju dengan pelaksanaan ritual rebo kasan atau rebo wekasan ini. Kita pun memaklumi bahwa ini mungkin menjadi sesuatu ritual yang tidak disepakati secara ijtima’ (bersama) karena perbedaan sudut pandang atau penafsiran terhadap referensi yang melatarbelakangi pelaksanaan rebo kasan ini. Tetapi, ini kita kembalikan kepada para tokoh agama (ulama) dan masyarakat itu sendiri sehingga tidak menjadi sesuatu yang perlu direspon secara frontal.

Terlepas dari masalah kontroversi rebo kasan, kita mengambil beberapa hikmah yang patut kita renungi, diantaranya:

Bencana Memang Ada

Siapapun makhluknya (manusia, jin dan hewan), pasti akan pernah mengalami bencana sepanjang hidupnya. Bencana yang bermacam jenis, dari bencana fisik, bathin sampai bencana aqidah dan moral. Jenis bencana dari mulai rasa tak nyaman, sakit, kecelakaan sampai kematian pasti pernah singgah dalam setiap lembaran hidup setiap makhluk. Yang membedakan satu makhluk dengan lainnya hanya waktu, jenis, dan kualitas dari bencana yang menimpanya. Yang jelas, bencana memang ada dan setiap kita punya jadwal dan jatah masing-masing untuk menerimanya.

Menyikapi Datangnya Bencana

Tidak satupun di antara kita yang menginginkan bencana datang kepada kita. Tapi, siapapun tak kuasa menolak jika bencana itu memang harus datang menjumpai kita, bahkan seorang presiden pun. Dan jika bencana itu datang, sikap kitalah yang akan menjadikan kita sebagai orang “penyambut yang baik” atau “penyambut yang buruk”. Tipe penyambut yang baik adalah jika kita mampu menghadapi bencana (apapun jenisnya) dengan sikap yang tepat dalam agama, yakni shabar, ikhtiar dan tawakkal. Sebaliknya, jika datngnya bencana disambut dengan kepanikan, putus asa dan su’udzhon (buruk sangka) kepada sang Pemberi Bencana, maka kita menjadi penyambut yang kalah dan kurang beruntung.

Selalu Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT.

Ini adalah jalan terbaik dalam rangka memohon perlindungan kepada Sang Penentu nasib dan urusan manusia, Allah SWT. Jika kita meyakini bahwa Allah sebagai Zat yang dapat memberikan mashlahat dan madharat kepada seluruh makhluk-Nya, kenapa kita berusaha menjauh dari-Nya. Bersikap menjauh dari perhatian dan kasih sayang Allah SWT, berarti kita telah membuat mental dan hati kita akan mati secara perlahan tapi pasti. Sebaliknya, jika diri dan hati kita senantiasa berusaha “merapat” kepada perhatian dan kasih sayang-Nya, disitulah sebenarnya kita sedang mengundang rahmat dan perlindungannya, termasuk dari bala bencana.

Jadi di saat momentum rebo kasan atau rebo wekasan ini, kita mulai berusaha mawas diri dan mewaspadai diri kita masing-masing. Karena acapkali bencana yang menimpa kita diawali dari ketidakwaspadaan terhadap pribadi kita sendiri Wallahu A’lam

  1. Ketika segala kemampuan yang kita miliki sudah tak mampu lagi untuk menghindar dari bencana, hanya kembali kepada Allah jawaban dari semua persoalan.
    Karena bencana timbul dari kelengahan kita.
    Salam kenal.

  2. Betul sekali, Mang! Salam kenal juga

  3. tolong kasih ayat/hadist yg menerangkan hal ini, agar orang awam spt saya tdk salah kaprah.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: