Jumat Kelabu di Situ Gintung

Tragedi Situ Gintung, Ada Hikmah dibalik Musibah

Siapa sangka kalau jumat shubuh (27/3) kemarin adalah saat perpisahan antara para korban dengan keluarga atau orang terdekatnya. Di saat sebagian besar warga Cirendeuy, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten masih terlelap nyenyak dalam pelukan penghujung malam, air bah yang datang bak pasukan dengan kekuatan penuh memporak- porandakan apapun yang dilaluinya tanpa lebih dahulu melakukan pemilahan atas korban-korbannya. Air limpahan dari jebolnya tanggul penyanggah Situ Gintung seluas 31 hektar, pagi buta itu menyapu bersih benda-benda yang dilaluinya. Satu-satunya bangunan yang disisakan disepanjang rute perjalanannya adalah sebuah masjid yang tampak masih kokoh berdiri di antara puing-puing yang sudah rata dengan tanah.

Yah, memang begitulah terkadap ciri dari sebuah tragedi. Datang tanpa pernah diundang dan kehadirannya sering tak dapat diprediksi. Ciri lain, seringkali tragedi tak cukup diajak dialog tentang siapa saja yang seharusnya pantas direnggut saat itu. Sehingga kita sering jumpai pemandangan betapa teganya sebuah tragedi mengambil anak-anak yang baru tumbuh atau orang jompo yang tidak berdaya. Namun, sekali lagi…begitulah nyatanya sebuah tragedi, yang apabila saat itu datang, saat itu pula harus siap disambut.

Yang jelas, sebuah tragedi atau musibah adalah hanya sebuah skenario dari Sang Pencipta untuk kemudian dijadikan sebagai sebuah perenungan bagi yang orang yang diselamatkan-Nya. Kita memang menyadari bahwa setiap musibah atau tragedi senantiasa melahirkan tetesan air mata baru. Tragedi senantiasa membuat luka trauma dan ketakutan. Tapi di balik itu, di setiap musibah atau tragedi yang datang sebenarnya dapat dijadikan nasehat diri dari sebuah prasangka kita yang terkadang tidak cerdas membaca pesan alam dan petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Tragedi pada akhirnya mengajarkan kita untuk tidak selalu tidur mendengkur dalam kenyamanan hidup, sehingga lalai dari melakukan upaya pendeteksian terhadap peringatan alam. Dan memang tabiat kita untuk selalu ingin “dibangunkan” secara tidak nyaman atau menyakitkan. Inilah kebanyakan yang menjadi penyebab, mengapa banyak orang yang terkaget-kaget dan baru tersadar secara tiba-tiba ketika tragedi atau musibah itu sudah masuk kedalam rumah kita tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Tragedi juga memiliki andil dalam usaha kita untuk senantiasa “mau” bersikap butuh akan perlindungan dari Sang Pemegang Skenario, Allah SWT. Ketika kita sudah enggan menegadahkan tangan kita kepada Sang Kholik, disitulah sebenarnya kita sudah membangun istana keangkuhan/kesombongan diri. Keangkuhan yang sangat tidak wajar untuk sekelas makhluk seperti kita yang tak pernah dapat izin untuk berlaku sombong. Kalaupun memaksa untuk menjadi orang sombong, maka itu adalah sebuah sikap tak tahu diri dan sangat beresiko.

Tentunya, dalam setiap tragedi atau musibah, kita turut berbela sungkawa terhadap setiap nyawa yang terenggut dan keluarga para korban yang ditinggalkan. Seraya memanjatkan do’a kita pun harus dapat memberikan bahasa yang bijak kepada kita semua bahwa selalu ada hikmah dibalik musibah. Sehingga ratapan bukanlah sebuah upaya mencari jawaban, tapi perlakuan yang bijak terhadap alam serta hubungan erat dengan Sang Pemiliknya yang sebenarnya dapat kemudian menenangkan segala bentuk ketakutan dan prasangka buruk. Wallahu A’lam.

  1. Mudah2an korban bersabar atas bencana yang ditimpanya!! itu semua ujian dari Allah SWT!!

    salam kenal sob!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: