MIRIS, PEMERINTAH LEBIH MEMILIH LEGALKAN MIRAS !

Pencabutan Perda Minuman Keras (Miras) oleh Kementerian Dalam Negeri sulit dipahami. Alasan pemerintah bahwa perda-perda tentang miras di beberapa daerah yaitu Kota Tangerang (Perda Nomor 7 Tahun 2005), Kabupaten Tangerang (Perda Nomor 11 Tahun 2010), Kabupaten Indramayu (Perda Nomor 15 Tahun 2006) dan Kota Bandung (Perda Nomor 11 Tahun 2010) bertentangan dengan Keputusan Presiden (Keppres No.3 Tahun 1997) tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol.

Alasan yang terkesan dibuat-buat, jika dikaitkan dengan besarnya dampak negatif dari miras itu sendiri. Karena siapapun tahu, termasuk pemerintah (juga) tahu jika banyak tindak pidana dan pelanggaran ketertiban masyarakat berasal dari miras ini. Pemerintah juga tahu bahwa pengaruh dari miras membawa dampak moral anak bangsa ke tingkat terendah. Tapi, sayangnya pemerintah juga tahu kalau keuntungan (pajak) dari industri miras ini cukup menggiurkan.

Jika pengaruh dari miras ini begitu besar terhadap kehancuran moral bangsa, masihkah pemerintah – dengan dalih ketidaksesuaian antara Perda dan Kepres – rela mengorbankan masa depan bangsa yang justru akan mempengaruhi kualitas dan stabilitas bangsa di kemudian hari. Atau pemerintah seolah tak perduli lagi dengan moral anak bangsa, yang tak lagi menghargai moral luhur bangsa.

Rasanya, alasan pemerintah (dalam hal ini Kementrian Dalam Negeri) karena ketidaksesuaian antara perda dan kepres sulit dipahami dengan logika orang awam sekalipun. Bukankah seyogyanya pemerintah harus mendukung segala peraturan daerah yang bertujuan menjaga stabilitas dan ketertiban masyarakat, bukan malah justru mencabut atau membatalkannya. Ini aneh dan mengkhawatirkan.

Mungkin akan lebih masuk akal jika pemerintah mau mengakui bahwa peraturan pembatasan dan pelarangan miras akan mempengaruhi pendapatan (pajak) negara. Artinya, jika semua daerah dibiarkan membuat perda pembatasan dan pelarangan miras, maka betapa besar keuntungan dari pajak penjualan miras yang hilang. Ini adalah hitung-hitungan bisnis dan memang menguntungkan. Namun jika ini yang menjadi alasan pencabutan perda miras oleh pemerintah, berarti pemerintah sudah tidak lagi memperdulikan ketertiban, keamanan dan ketentraman masyarakat dan aspirasi masyarakat. Sebab, penerapan perda miras seperti di Kota Tangerang, Sukabumi dan Bandung selama ini didukung oleh masyarakat setempat. Bahkan para pengusaha pun mau mematuhi perda tersebut. Lalu kenapa pemerintah pusat malah campur tangan terhadap daerah yang mau menjadikan masyarakatnya bebas miras atau setidaknya meminimalisir peredarannya.

Pemerintah harusnya memberi penghargaan terhadap daerah (Kota dan Kabupaten Tangerang, Kab. Indramayu dan Bandung) yang telah kreatif membuat peraturan daerah yang mendorong terciptanya rasa keamanan dan ketertiban bagi masyarakat di daerahnya, bukan malah mengobok-obok perdanya. Bukankah upaya menekan angka kriminal bisa diawali dengan pembatasan dan pelarangan penggunaan miras. Kita tahu pemerintah sudah cukup banyak mengeluarkan dana untuk biaya operasional Lembaga-lembaga Pemasyarakatan (baca, penjara) karena jumlah tahanan yang terus berjubel melebihi kapasitas.

Sekali lagi, pemerintah hendaknya memperhatikan betul aspirasi masyarkat yang menginginkan suasana kondusif di lingkungannya. Kesampingkanlah segala bisikan pihak-pihak yang berusaha memelihara ketidakstabilan dan kemaksiatan. Sebab, kita memaklumi banyak pihak yang berkepentingan dengan langgengnya keberadaan miras ini. Bisa jadi karena pihak-pihak yang memang gerah dengan keberadaan perda ini sejak awal, karena mengganggu kepentingan (bisnisnya) atau pihak-pihak yang paranoid (ketakutan berlebihan) terhadap perda-perda yang berbau syari’ah. Tinggal pemerintah, mampukah mengambil keputusan logis dan bertanggungjawab dan didukung oleh rakyatnya. Semoga pemerintah menyadari ini. Wallahu A’lam.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: