Demokrasi, Milik Siapa Sebenarnya?

Drama pembantaian militer oleh penguasa kudeta Mesir jilid 2 yang terjadi pada rabu pagi (14/08/2013) terhadap aksi damai pendukung presiden Mesir terpilih secara demokrasi telah menimbulkan pertanyaan masyarakat dunia terhadap sistem demokrasi yang digambarkan sebagai sistem yang paling baik dan pro rakyat. Hal ini karena seyogyanya, presiden Muhammad Mursi yang terpilih sebagai presiden Mesir melalui Pemilu yang jujur mestinya dipertahankan sebagai pemimpin Mesir saat ini, Terlepas dari partai apa yang mengusungnya. Yang terjadi justru, pemerintahannya yang baru berumur kurang lebih satu tahun terus digoyang dan berakhir dengan kudeta militer yang dipimpin oleh Jenderal As-Sisi.

Kondisi yang sangat jelas dan terang, bahwa peristiwa ini adalah perampasan demokrasi dengan mengatasnamakan kehendak rakyat. Sebuah drama yang menggambarkan dengan nyata betapa rakusnya para jenderal dalam mengambilalih kekuasaan yang sah pilihan rakyat. Cara yang tidak beradab ini dipertontonkan militer Mesir kepada dunia dengan cara yang tidak ksatria, karena proses penggulingan presiden Mursi dilakukan dengan cara pemaksaan dan pembohongan kepada publikdengan merekayasa pemberitaan dan penutupan media-media tertentu di Mesir dengan tujuan yang sudah dapat diterka, menyebarkan propaganda pesanan pemerintah kudeta.

Dimana Amerika, Sang Pendekar Demokrasi?

Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara yang mendakwahkan demokrasi kepada semua negara, dalam hal ini diam tak bereaksi. Kalaupun keluar komentar, hanya basa-basi diplomasi agar terkesan bersuara. Bahkan pasca terjadi kudeta, Amerika melalui Menteri Luar Negerinya, John Kerry mengatakan militer Mesir menggulingkan Presiden Muhammad Mursi atas permintaan jutaan rakyat. Tujuannya untuk melindungi dan mengembalikan demokrasi (Republika Online, 02/08/2013). Ada dua hal yang perlu digaris bawahi dari pernyataan John Kerry ini. Pertama, penggulingan Mursi dikatakan sebagai permintaan jutaan rakyat. Pertanyaannya, rakyat yang mana?. Padahal menurut survey terakhir yang dilakukan oleh Pusat Studi Media dan Opini Publik ‘Takamul Mashri’ di Mesir yang dilakukan awal Agustus 2013 ini, mensurvei berbagai kelompok dalam masyarakat Mesir dengan tingkat kepercayaan 95%. Seperti dilansir Islammemo, Kamis (8/8/2013), hasil survei menunjukkan 69% rakyat Mesir menentang kudeta militer yang dilakukan terhadap Presiden Mursi, 25% setuju dan 6% abstain. Jadi jelas, rakyat yang mendukung kudeta adalah minoritas. Kedua, dikatakan tujuan kudeta adalah untuk melindungi dan mengembalikan demokrasi. Jika bertujuan melindungi demokrasi seharusnya Jenderal As-Sisi dan militernya ikut serta membackup pemerintahan Presiden Mursi yang terpilih secara demokratis bukan malah menganulirnya.

Demokrasi (Ternyata) Sesuai Selera

Berkaca dari peristiwa di Mesir ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan demokrasi tidak terlepas dari kepentingan. Jika sesuai kepentingan dan selera pesanan pihak tertentu maka demokrasi harus dijunjung dan dipertahankan. Tapi, jika suatu pemerintahan walaupun terbentuk secara sangat demokratis tapi tidak sesuai keinginan maka dengan berbagai dalih mesti dibatalkan. Karena, tontonan demokrasi ala Amerika dan Barat ini bukan kali ini saja terjadi. Peristiwa demokrasi yang “tidak direstui” juga pernah menimpa pemerintahan hasil pemilu yang sah yakni ketika FIS, partai Islam Aljazair memenangkan pemilu pada tahun 1992 dan pemilu Palestina yang dimenagkan oleh HAMAS pada tahun 2006. Jadi milik siapa demokrasi sesungguhnya?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: